ISI Denpasar | Institutional Repository

CYANOTYPE : Blue Print Fotografi Alternatif

Syafi, Udin (2010) CYANOTYPE : Blue Print Fotografi Alternatif. Artikel Bulan April 2010, 4. pp. 1-2.

[img]
Preview
PDF (CYANOTYPE : Blue Print Fotografi Alternatif) - Published Version
Download (195Kb) | Preview

    Abstract

    Saat ini, teknologi fotografi sudah sedemikian canggih. Digitalisasi membuat semuanya jadi sangat mudah, sehingga fotografi semakin banyak peminatnya dan menjadi wabah di berbagai kalangan di Indonesia. Ada yang sekedar hobby, ada yang memang menjadi seorang fotografer jurnalistik atau fotografer komersil. Tentunya semuanya telah menjadi ruang bisnis yang cukup profit. Apapun bentuknya, bisnis fotografi seolah tak pernah mati karena hampir semua bidang membutuhkan dokumentasi foto, seiring dengan kemajuan teknologi fotografi itu sendiri. Secara historis, fotografi mengalami beberapa kali era perkembangan. Pada tahun 1824, seorang seniman lithography Perancis Joseph-Nicéphore Niépce, setelah 8 jam meng-exposed pemandangan dari jendela kamarnya melalui proses “Heliogravure” di atas plat logam yang dilapisi aspal, berhasil melahirkan sebuah imaji yang agak kabur dan berhasil pula mempertahankan gambar secara permanen. Kemudian ia pun mencoba menggunakan kamera obscura berlensa. Maka pada tahun 1826 lahirlah sebuah “foto” yang akhirnya menjadi awal sejarah fotografi. Kemudian berkembang pada era William Henry Fox Talbot (1834-1840) yang menemukan negative film dan kertas foto dengan lapisan emulsi silver nitrat yang lebih pendek waktu eksposure & cetaknya, yaitu hanya dalam hitungan menit bahkan detik. Setelah itu fotografi terus berkembang hingga era digital yang sangat canggih. Penemuan-penemuan lain di bidang fotografi masih banyak, diantaranya daguerreotype (Daguerre: 1838), Gum Bichromate (Mungo Ponton: 1839), Calotype (WHF Talbot: 1840), Cyanotype (Sir John Herchel: 1842), Salt print, albumen print dan lain-lain. Semuanya tentu mempunyai karakter dan nilai seni tersendiri. Bahkan hingga saat ini, masih ada beberapa orang yang menggunakan & mengembangkan tekni-teknik tersebut untuk membuat karya seni fotografi. Di Indonesia, adalah Irwandi,S.Sn, M.Sn, seorang dosen ISI Yogyakarta, yang mengembangkan teknik Cyanotype dalam karya seni fotografinya. Berawal dari ketertarikannya pada fotografi ‘old print’, dia melakukan beberapa kali percobaan dan berhasil ‘menemukan’ kembali teknik cyanotype. Pada Tahun 2005, dia mengadakan pameran fotografi old print tentang cyanotype. Kemudian dia aktif menyelenggarakan workshop fotografi cyanotype di beberapa kampus di berbagai kota. Dan bersama rekannya, Edial Rusli, dia juga menulis buku fotografi tentang teknik old print. Cyanotype pertama kali ditemukan oleh seorang ilmuwan Inggris bernama Sir John Herchel pada tahun 1842. Selain itu, John Herchel juga menemukan fixer atau larutan pengawet dalam proses cuci-cetak foto. Cyanotype disebut juga dengan istilah blue print karena karakteristik hasil cetaknya yang berwarna biru / cyan. Uniknya, cyanotype ini tidak hanya dicetak pada media kertas, namun juga dapat dicetak pada kain, kayu, batu dan media lain. Tak heran jika karya fotografi dengan teknik cetak cyanotype ini mempunyai nilai seni yang tinggi. Bahan-bahan chemical yang dipergunakan adalah Potassium Ferricyanida, Ferric Amonium Citrate dan Aquades. Bahan-bahan tersebut kemudian dicampur dengan takaran: 1. Solution A (20% solution) : 25 grams Ferric Ammonium Citrate dan 125ml Distilled Water 2. Solution B (14% solution) : 17 grams Potassium Ferricyanide dan 125ml Distilled Water Pengukuran harus dilakukan dengan tepat memakai timbangan millimeter. Kemudian, solution A dan solution B dicampur pada gelas ukur hingga bener-benar saling menyatu, maka jadilah larutan emulsi. Pengukuran dan pencampuran tersebut harus dilakukan pada ruangan dalam kondisi cahaya tugsten atau merah. Larutan emulsi tersebut dioleskan pada kertas atau media lain yang sebelumnya telah direndam dalam larutan garam 2% (proses penggaraman). Pengolesan dilakukan dengan memakai kuas yang halus, kemudian kertas tersebut dikeringkan. Setelah kertas siap digunakan, diatas emulsinya ditempel film yang akan dicetak. Film bisa berupa film hitam-putih, film ortho/lith film/ image setter dan transparancy printer/ photocopy. Kemudian ditindih dengan kaca dan dijepit dengan diberi alas triplek di bawah kertas supaya posisinya tidak tergeser-geser ketika proses exposing atau penyinaran. Proses exposing menggunakan cahaya matahari atau lampu UV selama 10-20 menit. Setelah itu proses Developing atau washing. Proses developing atau washing dilakukan di ruang dengan kondisi cahaya redup atau tungsten. Cuci kertas / cetakan tadi dengan air selama 1-2 menit. Kemudian rendam ke dalam larutan sodium thiosulphate / fixer selama 1-2 menit atau lebih. Larutan fixer ini berfungsi sebagai pengawet. Setelah itu dibilas lagi dengan air dan kemudian dikeringkan. Karya foto dengan teknik cetak cyanotype sudah siap dinikmati. Cyanotype bukanlah teknik yang mudah, namun prosesnya yang butuh ketelatenan dan kreatifitas membuat karya foto menjadi lebih artistik. Meski saat ini kebanyakan orang lebih menyukai teknik yang lebih mudah dengan adanya teknologi digital, namun bukan tidak mungkin jika cyanotype ataupun teknik old print lainnya justru menjadi aliran fotografi alternatif yang mempunyai nilai jual lebih tinggi. Saat ini bahkan ada komunitas fotografi old print di beberapa daerah. Fotografi adalah sebuah seni observasi. Seni dalam mencari sesuatu yang menarik dari sebuah tempat yang biasa saja. Hal ini hanya sedikit berhubungan dengan apa yang kita lihat dan sangat berhubungan dengan cara kita melihat. Selamat memotret dan berkesperimen… ([email protected])

    Item Type: Article
    Subjects: N Fine Arts > NX Arts in general
    Divisions: Publication Unit > Article
    Depositing User: Users 2 not found.
    Date Deposited: 04 Oct 2010 14:07
    Last Modified: 04 Oct 2010 14:57
    URI: http://repo.isi-dps.ac.id/id/eprint/106

    Actions (login required)

    View Item