ISI Denpasar | Institutional Repository

ANALISA MATERI GARAPAN KEMBANG RATNA

Ni Luh, Lisa Susanti (2011) ANALISA MATERI GARAPAN KEMBANG RATNA. Artikel Bulan September (2011), 2 (9). p. 1.

[img]
Preview
PDF (ANALISA MATERI GARAPAN KEMBANG RATNA) - Published Version
Download (32kB) | Preview

Abstract

Karya tari kreasi Palegongan Kembang Ratna memiliki elemen penting sebagai materi pokok yang patut dianalisa, yaitu gerak, karena dalam penampilannya gerak tersebut yang menjadi media ungkapnya sehingga mudah dicerna oleh penikmatnya. Perbendaharaan gerak pada tari kreasi Palegongan Kembang Ratna sudah terdapat pengembangan sesuai kebutuhan garapan sebagai hasil adanya rangsangan kreatif yang muncul dari dalam diri penata. Perbendaharaan gerak dalam garapan ini diharapkan dapat menjadi satu kesatuan yang utuh agar garapan dapat terlihat menarik. Adapun pengembangan gerak terdapat pada gerak murni, yaitu gerak tari yang mempunyai bentuk artistik dan tidak mengandung arti. Gerak murni dalam garapan ini dominan dapat dilihat pada bagian pengawit, pengawak, serta pekaad, seperti gerakan ngukel, ngotag, ngelo, dan miles. Sedangkan gerak maknawi, yang merupakan gerakan yang sudah diolah menjadi bentuk artistik dan mengandung arti, dominan dapat dilihat pada bagian pepeson, pengecet, dan pengetog. Beberapa motif gerak maknawi yang digunakan pada garapan tari kreasi Palegongan Kembang Ratna adalah sebagai berikut : Gerak yang menggambarkan keagungan bunga ratna Nabdab gelung : gerakan tangan seperti memperbaiki gelungan (posisi satu tangan menyentuh gelungan), yang didukung dengan ekspresi mata dibuka dan tersenyum (manis rengu).[1] Agem ratna : sikap pokok yang digunakan pada garapan tari kreasi Palegongan Kembang Ratna yaitu posisi kaki seperti agem kanan pada umumnya, posisi tangan kiri ngelung ke atas sejajar dengan kepala, posisi tangan kanan mahpah biu dengan kipas menghadap atas. Gerak yang menggambarkan keindahan bunga ratna Ngembang tangan : gerakan tangan yang diawali dengan posisi tangan ngiluk di depan dada, kemudian tangan diputar silih berganti diikuti dengan kaki melangkah ke depan. Hempas tangan mengalun ke atas : gerakan tangan yang diawali dengan posisi tangan di bahu kemudian dihempaskan ke atas. Gerak yang menggambarkan kelayuan dan kerapuhan bunga ratna a. Gerakan kenser sambil berputar ke kanan dengan posisi kipas ngiluk naik turun. b. Gerakan matimpuh, diikuti liukan badan dan agem mentang tangan bawah dengan ekspresi sedih. c. Gerakan bangun silih berganti dengan kipas ngeliput dan ngiluk (ruang gerak agak tertutup). Gerakan-gerakan di atas menunjukkan adanya pengembangan dari gerak-gerak tari Legong yang telah ada, dan disesuaikan dengan kebutuhan garapan. Perbendaharaan gerak ini juga didukung dengan desain koreografi untuk dapat mewujudkan keutuhan dalam garapan. Desain Koreografi Mewujudkan suatu garapan tari yang berkualitas, tidak hanya menggunakan dan memikirkan gerakan, namun juga perlu dipikirkan mengenai desain koreografi yang digunakan. Garapan tari kreasi Palegongan Kembang Ratna termasuk dalam komposisi tari kelompok, dengan fondasi pokoknya yaitu desain lantai.[2] Adapun motif-motif desain yang digunakan dalam tari kreasi Palegongan Kembang Ratna adalah sebagai berikut : Desain serempak (unison) Desain serempak atau unison merupakan desain yang mengutamakan kekompakan, kebersamaan atau keseragaman. Desain ini dipergunakan pada setiap bagian dalam garapan tari kreasi Palegongan Kembang Ratna. Desain bergantian (canon) Desain bergantian atau canon merupakan desain yang dilakukan secara bergantian antara penari satu dengan penari lain secara susul-menyusul. Desain ini ada pada setiap bagian dalam garapan tari kreasi Palegongan Kembang Ratna. Desain terpecah (broken) Desain terpecah atau broken merupakan desain yang memberikan kesan ketidakberaturan. Desain ini digunakan pada bagian pengecet. Desain berimbang (balanced) Desain yang membagi penari menjadi dua kelompok yang simetris, dengan motif dan daerah yang berimbang. Desain ini dilakukan pada bagian pengawak. Analisa Estetis Keindahan merupakan sesuatu hal yang membuat seseorang menjadi senang, enak dipandang, dan menimbulkan rasa bahagia bagi penikmatnya. Penilaian terhadap keindahan tergantung bagaimana perkembangan pola pikir masyarakat yang menikmati karena masing-masing orang mempunyai cara pandang atau persepsi yang berbeda. Pada dasarnya, seseorang yang menikmati sebuah karya biasanya lebih mengutamakan nilai keindahan, sehingga penata harus dapat menampilkan unsur-unsur keindahan. Adapun tiga unsur keindahan pada karya seni yang harus diperhatikan, yaitu wujud, bobot, dan penampilan.[3] Wujud dapat dilihat dari bentuk dan struktur, bobot dapat diamati melalui tiga aspek yaitu suasana, gagasan, dan pesan, sedangkan dalam penampilan ada tiga unsur yang berperan, yaitu bakat, keterampilan, dan sarana atau media.[4] 1. Wujud Wujud adalah sesuatu hal yang dapat dilihat dan dapat didengar. Wujud dapat secara nyata dipersepsikan melalui mata dan telinga. Dalam hal ini wujud dapat dilihat dari bentuk dan struktur sebuah karya seni. Garapan Kembang Ratna berbentuk tari kreasi Palegongan, yang ditarikan secara berkelompok oleh 7 (tujuh) orang penari putri. Struktur garapannya terdiri dari 6 (enam) bagian, yaitu pengawit, pepeson, pengawak, pengecet, pengetog, dan pekaad. Struktur garapan tentu disesuaikan dengan konsep garapannya sehingga antara bagian satu dengan lainnya saling berhubungan (koheren). 2. Bobot Bobot dalam hal ini merupakan isi yang terkandung dalam karya seni. Bobot tidak hanya saja sekedar melihat, namun penikmat juga perlu mendapat sesuatu setelah menonton karya seni tersebut. Bobot terdiri dari tiga aspek, yaitu gagasan, suasana, dan pesan. Dalam karya seni, bobot sangat penting adanya agar karya seni yang dipertunjukkan memiliki nilai dan kualitas yang baik. Karya seni berbobot tentu harus memperhatikan bagaimana penyampaiannya kepada penikmat, sehingga antara karya seni dengan penikmat terdapat adanya jalinan komunikasi. Gagasan dalam hal ini sama halnya dengan ide. Gagasan menyangkut hasil pemikiran dan inspirasi yang didapat oleh penatanya. Gagasan atau ide garapan tari Kembang Ratna adalah membuat sebuah garapan tari kreasi Palegongan yang terinspirasi pada gerakan luwes dalam Legong klasik, dan tidak masih terikat pada pakem Legong yang ada. Penata berkeinginan untuk mengembangkan kemampuan yang penata miliki dengan adanya alternatif baru dalam tari kreasi Palegongan yang digarap. Suasana yang ingin disampaikan dalam tari kreasi Palegongan Kembang Ratna bervariasi. Hal ini bertujuan agar suasana pada setiap bagiannya tidak terkesan monoton dan penikmat tidak merasakan jenuh jika suasana garapan tari Kembang Ratna dapat berbeda. Suasana ini tentunya disesuaikan dengan ide, konsep, dan kebutuhan garapan. Pada bagian pengawit, suasana yang ditampilkan adalah suasana tenang yang menggambarkan bunga ratna tumbuh dari bibitnya dan hidup subur di tengah-tengah tumbuhan lainnya. Pada bagian pepeson, suasana yang ingin ditampilkan adalah suasana agung, yang menggambarkan keagungan dari bunga ratna karena digunakan sebagai sarana upacara. Suasana tenang ditampilkan pada bagian pengawak, yang menggambarkan kesederhanaan bunga ratna karena bunga ratna memiliki bentuk yang kecil. Suasana gembira ditampilkan pada bagian pengecet, yang menggambarkan keindahan bunga ratna. Bagian pengetog yang menggambarkan kelayuan dan kerapuhan bunga ratna akibat dipetik setelah digunakan sebagai sarana upacara divisualisasikan dengan gerakan pelan dan hempasan badan yang dominan dilakukan pada level bawah dengan suasana sedih (sayu). Pada bagian terakhir yaitu pekaad, suasana yang ditampilkan adalah suasana gembira, yang menggambarkan bunga ratna tumbuh kembali dari biji bunga ratna yang berserakan menjadi bunga ratna baru. Pesan yang ingin disampaikan kepada penikmat melalui garapan tari kreasi Palegongan Kembang Ratna adalah dalam kehidupan ini, makhluk hidup semua sama di hadapan Tuhan karena semua diciptakan dan melalui proses yang sama yaitu lahir, hidup, dan mati. Begitulah seterusnya dan selalu berulang-ulang, demikian pula halnya dengan bunga ratna. Maka dari itu, kita sebagai sesama makhluk hidup jangan melakukan tindakan semena-mena terhadap makhluk hidup lainnya, karena setiap mahluk hidup saling membutuhkan antara satu dengan yang lain, seperti halnya bunga ratna yang dibutuhkan sebagai sarana upacara. 3. Penampilan Penampilan dalam hal ini adalah cara penyajian, bagaimana karya seni tersebut disajikan kepada penikmatnya. Penampilan dalam karya seni menentukan bagaimana persepsi dan asumsi masing-masing orang dalam menikmati karya seni tersebut Penampilan dipengaruhi oleh tiga unsur yang berperan, yaitu bakat, keterampilan, dan sarana atau media. Bakat adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang yang dibawa sejak lahir. Hal ini diartikan bahwa setiap orang memiliki bakat atau kemampuan (talent) yang berbeda-beda dalam bidang tertentu. Dalam karya seni, bakat sangat mempengaruhi penampilan sebuah karya seni. Dengan adanya bakat seni yang dibawa sejak lahir, segala sesuatu yang berhubungan dengan bidang mereka, dapat dikerjakan dan dikuasai dengan lebih mudah. Melalui bakat seni ini, mereka akan lebih mudah mengaplikasikan ilmu dan wawasan yang didapat mengenai seni, yang kemudian dapat dituangkan melalui penampilan karya seni mereka dengan berusaha menyuguhkan hasil karyanya dengan baik dan maksimal sesuai kemampuan. Keterampilan (skill) yang dimiliki seseorang dapat dicapai melalui adanya latihan-latihan. Keterampilan dapat diperoleh jika setiap orang selalu berkeinginan untuk mengasah kemampuan dan bakat yang dimiliki. Keterampilan dalam tari kreasi Palegongan Kembang Ratna sangat diperlukan agar garapan yang disajikan dapat berbeda dan tampil dengan baik sesuai yang diharapkan. Latihan-latihan perlu dilakukan dengan bertahap dan intensif agar keterampilan masing-masing pendukung dapat terasah dan semua pendukung garapan ini dapat menyatukan rasa antara satu dengan lainnya sehingga penampilan yang baik dapat diwujudkan. Sarana atau media merupakan wahana ekstrinsik yang mendukung penampilan sebuah karya seni. Sebagai penunjang berhasilnya pertunjukan garapan tari Kembang Ratna, diperlukan adanya tempat pementasan, tata lampu, properti dan dekorasi panggung yang dapat mendukung sesuai kebutuhan garapan. Tempat pementasan adalah di gedung Natya Mandala, ISI Denpasar. Dekorasi panggung terdiri dari layar hitam dan layar putih, serta tata lampu yang mendukung penyajian garapan yang sebelumnya telah disusun sedemikian rupa. Properti kipas yang menjadi ciri khas tari Legong dan menjadi bagian dari tari, juga mendukung penyajian garapan tari kreasi Palegongan Kembang Ratna.

Item Type: Article
Subjects: N Fine Arts > NX Arts in general
Divisions: Publication Unit > Article
Depositing User: Users 2 not found.
Date Deposited: 18 Nov 2011 02:04
Last Modified: 18 Nov 2011 02:04
URI: http://repo.isi-dps.ac.id/id/eprint/1143

Actions (login required)

View Item View Item