ISI Denpasar | Institutional Repository

Perkembangan Seni Patung Beton Di Desa Peliatan, Kec.Ubud,Kab.Gianyar

Drs. I Nyoman, Ngidep Wiyasa, M.Si (2006) Perkembangan Seni Patung Beton Di Desa Peliatan, Kec.Ubud,Kab.Gianyar. Documentation. ISI Denpasar.

[img]
Preview
PDF (Cover Perkembangan Seni Patung Beton Di Desa Peliatan, Kec.Ubud,Kab.Gianyar) - Cover Image
Download (14Kb) | Preview

    Abstract

    Abstrak: Pada mulanya seni patung Bali berfungsi sebagai sarana ritual pemujaan dalam bentuk simbol perwujudan roh leluhur, dewa, Tuhan, dengan segala manifestasinya yang bersifat sakral. Jenis-jenis patung perwujudan tersebut di Bali sering disebut pratima, arca, petapakan dan pralingga. Pembaharuan yang sangat gemilang dalam seni patung Bali terjadi setelah adanya kontak langsung seniman lokal dengan seniman asing ( Barat), sehingga melahirkan bentuk-bentuk baru yang cendrung realis, naturalis dan surealis. Patung realis, naturalis dan surealis yang menggunakan material kayu kemudian berkembang pesat di Desa Mas, Kemenuh dan Desa Peliatan, dengan tokoh-tokoh pematungnya antara lain Ida Bagus Nyana, Ida Bagus Tilem, I Ketut Tulak, I Wayan Ayun, Pande Wayan Neka, I Nyoman Togog dan I Wayan Winten. Seni patung dengan material beton yang berkembang dewasa ini di Desa Peliatan keberadaannya tidak terlepas dari seni patung kayu yang sudah ada sebelumnya, karena para pematung yang menekuni seni patung beton tersebut rata-rata sudah berpengalaman dalam bidang seni patung kayu, seperti halnya I Wayan Winten. Sebagai pematung yang hidup dalam lingkungan masyarakat dengan nilai-nilai budaya serta potensi seni yang menonjol, dan didukung oleh latar belakang pendidikan seni secara akademis yakni SMSR Denpasar dan PPGK Yogyakarta, menjadikannya sebagai seniman yang kreatif dan memiliki wawasan yang luas tentang kesenian khususnya seni patung. Hal ini sangat menarik dikaji dengan menerapkan berbagai metode pendekatan antara lain : metode observasi, yaitu melalui pengamatan langsung ke lapangan untuk mengetahui perkembangan seni patung beton di Desa Peliatan baik dilihat dari segi kuantitas pematung, bentuk karya, fungsi maupun maknanya bagi masyarakat. Selain itu juga dilakukan pengamatan mengenai proses penciptaan seni patung beton mulai dari membuat maket (miniatur) sampai terwujudnya karya seni patung itu sendiri. Metode wawancara dilakukan mulai dari I Wayan Winten sebagai informan kunci, dan pelopor pematung beton yang ada di Desa Peliatan, kemudian baru para pematung beton lainnya yang dianggap bisa memberikan informasi yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Metode kepustakaan, dilakukan dengan menelaah sejumlah pustaka yang ada kaitannya dengan keberadaan seni patung Bali, yang terkait dengan perkembangan seni patung beton di Desa Peliatan. Sementara itu, metode dokumentasi, yaitu pengumpulan data melalui bukti-bukti tertulis yakni berupa buku monografi Desa Peliatan, katalog pameran dan foto-foto karya seni patung. Berdasarkan data yang telah diperoleh sesuai dengan kebutuhan penelitian ini maka dapatlah dijelaskan bahwa proses penciptaan seni patung beton yang ada di Desa Peliatan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut : (1) pembuatan gambar sketsa, (2) pembuatan maket (miniatur), (3) pembentukan konstruksi rangka patung, (4) pengecoran rangka patung, (5) tahap pembentukan, (6) penyelesaian bentuk dan detail hiasan. Perkembangan seni patung beton yang ada di Desa Peliatan tidak terlepas dari pengaruh sosok I Wayan Winten yang sudah menkuni seni patung dengan material beton dimulai sejak tahun 1992 yakni membuat patung penari, yang menghiasi pertigaan Br Teges Desa Peliatan. Tahun 1994 membuat patung Satria Gatot Kaca yang ada di Kuta. Tahun 1995 membuat patung Dewa Wisnu, Garuda, Kalarau dan Dewi Ratih yang menghiasi Taman Ciung Wanara Kota Gianyar. Tahun 1995 membuat patung Dewa Indra di pertigaan Tegal Tugu Gianyar. Tahun 1995 membuat patung Dewi Natha yang menghiasi pertigaan Semabaung Gianyar. Tahun 1996 membuat patung Kapten Mudita di Kota Bangli. Tahun 1996 membuat patung Dewa Ruci di Simpang Siur Kuta. Tahun 2002 membuat patung Betara Tiga di pertigaan Manguntur Batubulan. Tahun 2003 membuat patung Sutasoma di pertigaan Ubud, dan sejumlah karya patung beton lainnya tidak hanya di Bali, akan tetapi juga di luar Bali. Ketenaran sosok pematung I Wayan Winten membuat generasi muda banyak yang tertarik untuk belajar seni patung dengannya, baik lewat pendidikan non formal maupun formal, karena Wayan Winten disamping sebagai seniman, juga sebagai seorang guru di SMSR, yang kini adalah SMK N I Sukawati. Mantan murid-muridnya yang sampai kini menekuni seni patung beton antara lain: Komang Labda, asal Karangasem yang saat ini menempati studionya di Jalan Dewi Candra Batubulan. I Ketut Suardana asal Banjar Tengah Peliatan, membuka studio patung di rumahnya sendiri, di Jalan Raya Peliatan, I Wayan Sedan Suputra, asal Banjar Kalah Peliatan, kini membuka studio di Jalan Raya Kengetan Singakerta Ubud. I Wayan Winarta, asal Desa Batuan, membuat studio patung di Jalan Raya Penida Batuan. I Nyoman Purna, asal Banjar Tengah Peliatan saat ini membuat studio patung di Jalan Raya Pengosekan Ubud. Sedangkan Kadek Artika, asal Banjar Tengah Peliatan kini membuka studio patung di Jalan Kengetan Singakerta Ubud. Perkembangan seni patung beton di Desa Peliatan tidak hanya bisa dilihat dari kuantitas pematungnya, akan tetapi juga perkembangan bentuk karya, fungsi maupun maknanya bagi masyarakat. Dilihat dari segi bentuk yang merupakan hasil aktivitas baik individu maupun kelompok, dan entitas yang dihasilkan bersifat kongkret, terwujud lewat karya-karya patung beton yang bergaya realis, naturalis dan abstrak. Sementara itu, tema yang dingkat tidak hanya tema-tema pewayangan seperti Ramayana, Mahabharata, mitologi Hindu dan tantri, akan tetapi juga kehidupan sehari-hari (kehidupan sosial), sehingga hadir karya patung beton yang sangat variatif. Dilihat dari segi fungsi, kehadiran seni patung beton di Desa Peliatan tidak hanya untuk kepentingan ritual pemujaan yang terwujud dalam bentuk simbol-simbol keagamaan, melainkan juga berkembang ke fungsi estetis dekoratif yakni sebagai elemen penghias taman kota, tempat rekreasi, kantor pemerintahan, hotel, museum, rumah hunian dan sebagainya. Sedangkan kalau dilihat dari segi makna telah mengalamai perkembangan tidak hanya makna keindahan akan tetapi juga makna pembaharuan dan kesejahteraan. Oleh karena karya yang terwujud memiliki nilai keindahan, nilai inovasi (pembaharuan), yakni memiliki perbedaan dengan karya-karya patung yang sudah ada sebelumnya, dan kehadiran karya tersebut mampu meningkatkan taraf kesejahteraan senimannya dan juga masyarakat pendukungnya.

    Item Type: Monograph (Documentation)
    Subjects: N Fine Arts > NX Arts in general
    Divisions: Faculty > Fine Arts and Design Faculty > Craft Department
    Depositing User: Ni Made Dwi Oktaviani
    Date Deposited: 15 May 2012 11:20
    Last Modified: 15 May 2012 11:20
    URI: http://repo.isi-dps.ac.id/id/eprint/1343

    Actions (login required)

    View Item