ISI Denpasar | Institutional Repository

SIKAP PAKSA PADA GAMELAN JEGOG BALI

I Nyoman , Artayasa (2017) SIKAP PAKSA PADA GAMELAN JEGOG BALI. Documentation. ISI Denpasar.

Full text not available from this repository.

Abstract

Abstract The discussion about task, organization and environment is not only monopolized by industrial world. Those three problems in ergonomics should be discussed in the world of art as well. There are a lot of negligence of body natural posture in doing art, so that there are many diseases found as the impact of it or in producing artistic tools. Such diseases which are caused by doing art actually can be avoided if in doing art,we concern ourselves with the rules of ergonomics which are related to our strength, limit, and weakness in adapting with task, organization, and environment. One of art activities which does not concern with ergonomics aspect in this case anthropometry is the activity of playing gamelan Jegog (Jegog instrument). Gamelan Jegog is from Jembrana Bali and was created by an artist named Kiyang Geliduh from a village of Dangin Tukad Aya in 1912. In general, the way of playing gamelan Jegog is by beating it while sitting on a chair because the size of its selawah is high, but the uniqueness of this kind of gamelanis the way of beating the biggest instrument, namely the jegogan. The two players are positioned on the back selawah. One of them beats in the left side in the keys with low tone, and the other one is in the right side in the keys with high tone. They bring big mallets like the mallet of gong which are held with two hands as they are heavy and big. When playing gamelan is conducted in a squatting position, on back selawah every day over and over, it will cause a less natural posture and can cause a disease as the impact of doing art. Therefore, the role of ergonomics in this case anthropometry is really needed, so that the posture when playing gamelan Jegogwill be more natural. This article describes about the change of posture in playing gamelan Jegog from squatting position on back selawah into standing position facing the gemelan. As the result, diseases caused by doing art can be reduced and the role of ergonomics in the world of art can be known by the wider society. Kata kunci: anthropometry, Jegog ABSTRAK Pembicaraan masalah task, organisasi dan lingkungan tidak hanya monopoli pada dunia industri saja. Ke tiga masalah dalam ergonomi tersebut harus pula didiskusikan pada dunia seni. Terjadi banyak pengabaian sikap-sikap alamiah tubuh dalam berkesenian, sehingga penyakit akibat berkesenian ataupun dalam rangka memproduksi alat-alat kesenian banyak dijumpai. Penyakit akibat berkesenian tersebut sebenarnya dapat dihindari jika saja dalam beraktivitas seni budaya memperhatikan kaidah-kaidah ergonomi yang berkaitan dgn kelebihan, batasan dan kekurangan manusia dalam menyesuaikan diri dgn task, organisasi dan lingkungan. Salah satu kegiatan seni yang tidak memperhatikan aspek ergonomi dalam hal ini antropometri adalah kegiatan berkesenian menabuh gamelan jegog. Gamelan Jegog, kesenian Jembrana Bali ini dalam sejarahnya diciptakan oleh seniman yang bernama Kiyang Geliduh dari Dusun Sebuah Desa Dangin Tukad Aya pada tahun 1912. Secara umum cara menabuh gamelan jegog ini adalah dengan dipukul sambil duduk di atas kursi karena ukuran selawahnya tinggi, tetapi hal yang betul-betul memberikan ciri khas pada jenis gamelan ini adalah cara memukul instrumennya yang berukuran terbesar, yaitu jegogannya. Penabuh yang terdiri dari dua orang bertengger di atas selawah bagian belakangnya. Seorang memukul di sebelah kiri di daerah yang bilahannya bernada rendah dan seorang lagi di sebelah kanan yang bilahannya bernada tinggi. Masing-masing membawa panggul besar seperti pemukul gong yang karena berat dan besarnya digenggam dengan kedua tangannya. Ketika aktivitas yaitu menabuh gamelan yang dilakukan dengan jongkok di atas selawah bagian belakang, dilakukan setiap hari secara terus-menerus, maka akan terjadi sikap tubuh yang kurang alamiah yang dapat menyebabkan penyakit akibat beraktivitas berkesenia. Maka dalam hal ini peranan ergonomi dalam hal ini antropometri sangat diperlukan, sehingga sikap tubuh saat menabuh gamelan jegog dapat lebih alamiah. Artikel ini mediskripsikan perubahan sikap menabuh gamelan jegog dari yang semula jongkok di atas selawah bagian belakang gamelan menjadi berdiri berhadapan dengan gemelan. Dengan demikian dapat diketahui peranan ergonomi dalam dunia berkesenian dalam jangkauan yang lebih luas. Kata kunci: antropometri, jegog

Item Type: Monograph (Documentation)
Subjects: N Fine Arts > NX Arts in general
Divisions: Faculty > Fine Arts and Design Faculty > Interior Design Department
Depositing User: Mrs Dwi Gunawati
Date Deposited: 04 Oct 2017 11:08
Last Modified: 04 Oct 2017 11:08
URI: http://repo.isi-dps.ac.id/id/eprint/2449

Actions (login required)

View Item