ISI Denpasar | Institutional Repository

Krodha

I Gede , Pradnyana and Ni Ketut, Suryatini and Ni Ketut , Dewi Yulianti,S.S.,M.Hum (2018) Krodha. Working Paper. ISI Denpasar, Denpasar, Bali.

Full text not available from this repository.

Abstract

Seni karawitan merupakan salah satu warisan seni budaya masa silam yang sudah mengalami proses pembaharuan atau modernisasi yang ditandai dengan masuknya gagasan-gagasan baru yang bersifat inovatif, yaitu segala kemampuan diri dalam berfikir untuk menciptakan sesuatu yang baru bagi diri kita maupun masyarakat dan lingkungan sekitar kita. Inovatif dalam hal ini yaitu adanya penambahan-penambahan alat yang digunakan pada sebuah garapan baru, seperti rebana, angklung kocok, kulkul dari bambu dan lain sebagainya. Istilah karawitan merupakan istilah baru di Bali, namun penggunaan dan pemaknaanya semakin berkembang, artinya semakin banyak yang menggunakan. Modernisasi seperti ini merupakan wujud dari suatu proses perubahan yang diupayakan untuk mencapai keadaan yang sesuai dengan tuntutan masyarakat modern. Perubahan tersebut tidak hanya sekedar berubah, namun disesuaikan dengan tatanan nilai kehidupan masyarakat pada zamannya. Kreativitas, itulah modal utamanya, karena dengan modal kreativitas yang dimiliki setiap generasi berupaya untuk mengaktualisasikan dan memberikan sentuhan baru pada kesenian yang mereka miliki. Khususnya para seniman yang secara sadar, kreatif dan selektif selalu berusaha memberikan gagasan-gagasan baru sebagai angin segar yang mampu mendorong bangkitnya kesenian masa lampau dengan maksud untuk dapat diwariskan kepada generasi berikutnya dan mendekatkan kesenian tersebut sesuai dengan perkembangan masyarakatnya. Krodha artinya sifat marah atau amarah. Krodha merupakan salah satu bagian dari sadripu. Pengertian dari sadripu adalah enam musuh yang ada dalam diri manusia. Bagian-bagian dari sadripu antara lain kama, lobha, krodha, mada, moha, dan matsarya. Menurut penata, dari keenam bagian itu, krodha yang penata pilih sebagai judul dari garapan tugas akhir nanti, karena garapan yang akan penata buat merupakan sebuah tabuh kreasi yang bernuansa keras, yang mencerminkan watak seseorang yang lagi marah atau emosi. Tidak semua bagian dari garapan ini bernuansa keras. Ada beberapa bagian yang bernuansa sedang bahkan lambat. Media ungkap yang penata gunakan adalah Gong Kebyar, karena selain keberadaannya mudah dicari, sebagian besar dari pendukung garapan ini sudah biasa memainkan barungan Gong Kebyar. Sifat krodha ini berawal dari badan kasar (gross body) kita, yang di dalamnya terdapat panca maha bhuta, yang artinya lima unsur yang terdapat dalam diri manusia. Kelima unsur itu antara lain, akasa, bayu, teja, apah dan pertiwi. Kata krodha itu bukan selalu berarti keras atau marah, tetapi kembali pada pikiraan, ego dan kecerdasan orang itu sendiri.

Item Type: Monograph (Working Paper)
Subjects: N Fine Arts > NX Arts in general
Divisions: Faculty > Performing Arts Faculty > Karawitan Department
Depositing User: Jaya Semadi I Gst Ngurah
Date Deposited: 03 May 2018 10:44
Last Modified: 07 May 2018 15:38
URI: http://repo.isi-dps.ac.id/id/eprint/2627

Actions (login required)

View Item