ISI Denpasar | Institutional Repository

Abstrak Penelitian 06

author, ISI (2011) Abstrak Penelitian 06. Documentation. ISI Denpasar.

[img] Microsoft Word (Abstrak Penelitian 2006) - Published Version
Download (84Kb)

    Abstract

    KORELASI ANTARA KEMAMPUAN MENGHAYATI UNSUR-UNSUR INTRINSIK KARYA SASTRA DENGAN KEMAMPUAN MENGAPRESIASIKAN KARYA SENI MAHASISWA ISI DENPASAR 1. Oleh : ( Drs. I Wayan Mardana, Jurusan Pedalangan, FSP, DIPA, 2006) Penghayatan karya sastra apresiasi seni adalah mata kuliah wajib yang harus ditempuh oleh mahasiswa Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar. Tjuan penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi antara kemampuan menghayati unsur-unsur intristik karya sastra dengan kemampuan mengapresiasikan karya seni mahasiswa ISI Denpasar. Proses Penelitian ini terlebih dahulu melakukan dengan pengumpulan data dari nilai penghayatan karya sastra dan nilai apresiasi seni ISI Denpasar. Data dari 50 orang tersebut merupakan sampel penelitian yang mewakili seluruh mahasiswa ISI Denpasar sebagai populasi penelitian. Selanjutnya nilai penghayatan sastra sebagai variabel bebas dan apresiasi karya seni sebagai variabel terikat, dianalisis menggunakan analisis statistik. Teknik uji hipotesis dalam statistik yang digunakan adalah koefisien korelasi produk momen pearson. Koefisien korelasi dalam perhitungan keduanya lebih besar, berarti hipotesis penelitian yang berupa alternatif adalah signifikan. Sebagai kesimpulan penelitian bahwa ada korelasi yang positif antara kemampuan menghayati unsur-unsur intristik karya sastra dengan kemampuan mengapresiasikan karya seni mahasiswa ISI Denmpasar. Kata kunci : korelasi, kemampuan penghayatan karya sastra dan kemampuan apresiasi seni. SASTRA KLASIK BALI : STUDI TENTANG KARYA SASTRA SEBAGAI SUMBER GAGASAN DALAM PENCIPTAAN KARYA SENI MAHASISWA SENI PERTUNJUKAN ISI DENPASAR 2. Oleh : ( I Gusti Lanang Oka Ardhika, SST. ,Jurusan Tari, FSP, DIPA 2006) Sastra klasik Bali menyimpan kekayaan rohani yang sangat berharga bagi generasi muda dewasa ini. Karya seni itu menduduki posisi yang cukup penting di tengah kehidupan seni pertunjukan. Dari beragam karya sastra klasik itu yang paling banyak dijadikanm sumber ide untuk menggarap karya seni pertunjukan adalah : 40 % Mahabrata, 28 % cerita rakyat, 123 % Babad, 6 % Ramayana dan 8 % lain-lain. Tema-tema yang diangkat ke dalam seni pertunjukan adalah 52 % memilih tema pendidikan, 22 % tema kepahlawanan, 18 % tema kesetiaan, 12 % tema percintaan. Kata Kunci : karya sastra klasik Bali dan tema seni pertunjukan. PROFIL PEMANFAATAN MEDIA PEMBELAJARAN DALAM MEWUJUDKAN PERKULIAHAN YANG KONDUSIF PADA FAKULTAS SENI PERTUNJUKAN INSTITUT SENI INDONESIA DENPASAR 3. Oleh : (Drs. I Nengah Sarwa, Jurusan Karawitan, FSP, DIPA 2006) Tantangan berat pendidikan nasional dewasa ini antara lain berkaitan dengan peningkatan kualitas dan relevansi. Berdasarkan konsep bahwa makin nyata pengalaman yang diperoleh peserta didik akan makin mudah untuk diingat, dipelajari dan ditirukan. Begitu pula makin banyak indra yang terlibat, informasi pengetahuan atau pengalaman makin mudah untuk diingat, maka salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas keluaran adalah dengan meningkatkan proses pembelajaran melalui pemanfaatan media pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap (1) jenis media pembelajaran yang digunakan dalam perkuliahan, (2) relevansi pemanfaatan media pembelajaran dalam perkuliahan, (3) kuantitas pemanfaatan media pembelajaran dalam perkuliahan, (4) kualitas p[emanfaatan media pembelajaran dalam perkuliahan di Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar. Penetian ini merupakan jenis penelitian Deskriptif. Sebagai populasi adalah penggunaan media pembelajaran dalam perkuliahan baik teori maupun praktek program S1 Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar pada semester ganjil tahun 2006/2007. Sampel diambil secara purposif random sampling yang berada pada tiga jurusan/program studi. Kegiatan penelitian dilakukan dengan langkah-langkah (1) penyusunan instrumen penelitian berupa angket melalui proses validasi sejawat sesuai dengan jenis data yang digali, (2) menggali data dari sumber data yaitu mahasiswa dengan menggunakan angket yang telah disusun, dan (3) melakukan tabulasi, analisis data dan pemaknaan hasil analisis data. Hasil penelitian menunjukan beberapa kesimpulan seperti berikut ini Pertama, jenis media yang digunakan dalam pengajaran oleh dosen berturut-turut OHP adalah yang paling sering digunakan, disusul pemanfaatan jenis media diktat (buku khusus), media alat peraga dan LCD. Kedua, relevansi, pemanfaatan media pembelajaran dalam perkuliahan oleh dosen di Fakultas Seni Pertunjukan Seni Indonesia Denpasar, masuk pada katagori baik. Ketiga, dilihat berdasarkan kuantitas, pemanfatan media pembelajaran dalam perkuliahan oleh dosen di Fakultas Seni Pertunjukan Insitut Seni Indonesia Denpasar masuk pada kategori baik. Keempat, kualitas pemanfaatan media pembelajaran dalam perkuliahaan oleh dosen di Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar, masuk pada kategori sedang. TOPENG MODERN KARYA I WAYAN SUKARYA 4. Oleh : (Drs. I Ketut Muka P., M.Si., Jurusan Kriya, FSRD, DIPA 2006) Penelian ini dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran tentang topeng modern yang ada di Bali, khususnya di Kabupaten Gianyar, karena tidak banyak seniman, perajin, kriyawan di Bali berkarya dujalur topeng modern. Hal ini penting karena karya-karya modern selama ini lebih akrab terkait dengan karya-karya seni lukis. Namun faktanya hal ini dapat juga terjadi pada karya topeng. Maka dari itu kami menetapkan karya Bapak I Wayan Sukarya sebagai sumber kajian dalam penelitian ini. Alasan penetapan ini adalah karya-karya I Wayan Sukarya adalah karya-karya topeng modern dengan kualitas baik karena proses pengerjaannya sama dengan proses pembuatan topeng tradisional Bali mulai dari proses pembentukan sampai pada pewarnaan / pengecatan. Alasan lain adalah ingin mendokomentasikan karya-karya I Wayan Sukarya, karena selama ini karya-karyanya banyak yang tidak terdokumentasikan dengan baik, sehingga sulit melacak karya-karya sebelumnya walaupun hanya dalam bentuk foto. Penelitian ini dilakukan dengan model diskriptif, mencoba menjelaskan tentang bentuk, ide penciptaan, proses perwujudan, pewarnaan, penjualan serta makna yang terkandung dalam masing-masing karya topeng modern karya I Wayan Sukarya. Sumber data diambil semua karena jumlahnya terhitung sekitar 25 sumber data karya-karya 2006 ditambah sebagaian kecil karya-karya 2005. I Wayan Sukarya, lahir di Banjar Mukti Desa Singapadu Gianyar, seorang pembuat topeng dan juga melukis, sebagai Dosen Jurusan Seni,Program Studi Seni Patung di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Beliau menamatkan pendidikan seni di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Denpasar dan ISI Jogyakarta. Keahlian membuat topeng didapat dari orang tuanya yaitu Bapak I Wayan Tangguh, tahun 2006 ini berusia sekitar delapanpuluhan, salah satu pembuat topeng tradisi berkualitas tinggi yang masih aktif sampai saat ini. Topeng-topeng yang dibuat lebih banyak untuk keperluan pementasan budaya dan seni terkait dengan Hindu di Bali. Latar belakang pendidikan diakuinya sebagai dasar pemikiran I Wayan Sukarya berkarya pada jalur topeng-topeng modern. Dalam berkarya ia mengolah gambar/ desain pemesan dipadukan dengan idenya sendiri. Gambar-gambar topeng kemudian dikaji dan dipikirkan bagaimana bentuk tiga dimensinya, bahannya, proses perwujudannyapemesan tidak tahu wujud akhirnya, karena desain yang diberikan kepada pembuatanya ini kurang sempurna, tidak sesuai dengan bahan dan teknik pembentukan topeng. Pemesan biasanya lebih memfokuskan pada makna yang harus disampaiakan pada karya tersebut. Pesanan yang diterima sering hanya berupa pernyataan makna namun tidak ada desainnya. Disinilah diperlukan kepintaran seorang seniman dalam menterjemahkan makna tersebut. Dapat dikatakan 50 % lebih proses perwujudan karya tersebut merupakan hasil ide kreatifnya sendiri. Jadi bukan total merupakan ide pemesan. Secara umum karya-karya I Wayan Sukarya, menggambarkan prilaku manusia di masyarakat. Sifat dasar manusia yang sering muncul dalam karya-karyanya adalah sifat baik dan buruk, perwujudannya tercermin dalam berbagai tindakan manusia. Makna-makna yang mncul dalam karya topeng tersebut banyak yang sulit untuk diresapi, maka dari itu perlu penjelasan dari pembuat makna topeng tersebut. Ada beberapa unsur-unsur rupa dalam topeng mudah dibaca namun sulit diresapi maknanya secara utuh. I Wayan Sukarya telah menyelesaikan banyak karya topeng, namun jumlahnya tidak tercatat. Permintaan datang tiap tahun dengan jumlah sekitar 10-15 biji dengan ukuran bervariasi, tinggi 50-70cm dan lebar 40-60cm. Harga yang dipasang juga bervariasi mulai dari Rp. 3.000.000. sampai Rp. 6.000.000. Pemesan topengnya lebih banyakdatang dari luar negeri terutama dari Itali. STUDI TOPENG TRADISIONAL KARYA I WAYAN TANGGUH DI BANJAR MUKTI SINGAPADU-KABUPATEN GIANYAR 5. Oleh : (Drs. I Nyoman Parnamaricor, Jurusan Desain, FSRD, DIPA 2006) Perajin di Bali menyebut warna Bali untuk pembuatan cat warna tradisional yang menggunakan bahan baku alam. Pembuatan khusus untuk warna topeng saat ini masih ada di Singapadu yaitu pada Bapak I Wayan Tangguh. Belum ditemukan literatur meyakinkan tentang kapan pembuatan dan penerapannya pada kerajinan topeng dimulai. Warna Bali juga dipergunakan pada pembuatan lukisan oleh Bapak I Nyoman Mandra, pelukis tradisi khas Kamasan di Desa Kamasan-Klungkung. Jenis bahan alam yang dipergunakan untuk membuat warna Bali adalah : kincu untuk memproleh warna merah, tulang babi untuk warna putih, jelaga untuk warna hitam, atal untuk warna kuning, muruh leked untuk warna biru, pere dan deluga untuk warna coklat. Bahan perekat dan lapisan penghapus pada proses finishing dipergunakan ancur yang didatangkan dari Surabaya, kincu dari Cina, deluga dari Eropa yang dapat dibeli di Denpasar, yang lainnya adalah bahan lokal (Bali). Ancur sebagai bahan perekat diperlukan dalam cetiap pembuatan warna. Ada anggapan yang keliru bahwa warna Bali, pembuatannya semua menggunakan bahan-bahan lokal (Bali). Pemberian nama warna Bali untuk cat buatan perajin ini lebih tepat karena proses tradisi Balinya, bukan karena bahannya. Peralatan untuk pembuat terdiri dari seperangkat alat penghalus yaitu cawan/piring terbuat dari keramik dengan batu pengahlus. Untuk penerapannya dipakai kuas lukis. Kualitas hasil penerapan sangat tergantung dari lamanya proses penghalusan (penguyegan) dan ketrampilan perajin. Beberapa perajin topeng mulai meninggalkan penggunaan warna Bali. Warna pengganti yang digunakan adalah warna jadi buatan pabrik seperti aclyric yang dapat dibeli di toko-toko cat. Pertimbangannya lebih efisien karena mudah didapat, tidak memerlukan proses tambahan, tuntutan waktu konsumen yang tepat. Tetapi kualitas akhiur yamg didapatkan tidak sebaik warna Bali. Menurut Bapak I Wayan Tangguh, warna Bali mempunyai kekhasan yaitu tampilannya lebih “hidup” sesuai dengan karakter peran yang diwakili topeng. Maka dari itu konsumen asing dan lokal yang tahu tentang perbedaan kualitias ini masih tetap mencari topeng yang menggunakan cat warna Bali, walupun harganya lebih mahal. Konsumen lokal bianya menggunakan sebagai perlengkapan pementasan. Pemerintah sudah saatnya melakukan inisiatif pelestarian terhadap warna Bali dengan cara : a. mendekumentasikan dalam bentuk buku, slide, atau film. B. menyertakan perajin pembat warna tersebut dengan memberikan subsidi sebagai penghargaan, bukan penghargaan berupa kertas piagam. C. Perlu dipikirkan sentuhan teknologi yang lebih maju dalam proses pembuatannya, sehingga hasil yang didapat lebih baik dan efisien. EKSISTENSI TARI SUTRI DI PURA SAMUANTIGA DESA BEDULU KABUPATEN GIANYAR 6. Oleh : (Ni Made Bambang Rai Kasumari,SST.,M.Si, Jurusan Tari, FSP, DIPA 2006) Bali memiliki berbagai macam warisan budaya yang memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri. Salah satu warisan budaya Bali masa lampau adalah pura Samuantiga. Pura ini terletak di Desa Badulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar. Dalam pelaksanaan upacara piodalan di pura Samiantiga yang dilaksanakan setiap 210 hari sekali (pujawali balian) dan setahun sekali pada purnama kedasa (ngusaba), dilaksanakan sebuah tari upacara (wali) yang unik dan khas yang oleh masyarakat setempat disebut dengan Tari Sutri. Keunikan dan kekhasan tarian ini terletak pada proses dan sarana yang dibawa. Keunikan lainnya, tarian ini diiringi oleh dua barung gamelan secara bersamaan yaitu gamelan Gong Kebyar dan gamelan Angklung. Keberadaan tarian ini diperkirakan sejaman dengan dibangunnya Pura Samuantiga yaitu pada jaman pemerintahan raja Ganapriya Dharmapatni/Udayana Warmadewa yang bertahta di Bali pada sekitar tahun 988-1011 masehi. Di jaman globalisasi masysrakat mengalami perubaha yang disebabkan oleh perkembangan jaman terutama perkembangan dan ekonomi. Seperti beberapa tari-tarian wali, pada mulanya sebagai tari sakral kemudian bergeser fungsi menjadi tari sekuler atau memiliki fungsi ganda. Demikian pula dengan benntuk penyajiannya yang semula sangan sederhana kemudian ditata lebih artistik. Hal tersebut tidak terjadi pada Tari Sutri di Pura Samuantiga, tarian ini tetap eksis seperti semula, tidak banyak mengalami perubahan, perubahan terjadi pada jumlah penari yang kadang-kadang bertambah dan kadang-kadang berkurang. Hal tersbut disebabkan oleh perlakuan masyarakat yang melihat Tari Sutri sebagai tarian yang sangat disucikan sehingga mereka cenderung takut untuk merubahnya. Tari Sutri dibawakan oleh sekelompok penari wanita disebut dengan permas. Mereka adalah orang-orang yang berkomitmen dalam hidupnya untuk menjado pengayah setiap upacara piodalan berlangsung. Tidak sembarang orang yang bisa menjadi permas, mereka adalah orang-orang yang menjadi pewaris (keturunan) yang pada mulanya adalah orang-orang yang pernah terkena musibah (sakit) dan orang-orang tersebut memang sudah dikehendaki oleh Bhatara-Bhatari yang berstana di Pura Samuantiga. Orang-orang yang akan menjadi penari ini harusmenjalani suatu proses yaitu harus melakukan pawintenan (disucikan secara sekala dan niskala), menghaturkan bamnten pejati dan banten pamiak kala. Tari Sutri merupakan tarian skral atau suci yang dilaksanakan dalam upacara piodalan di Pura Samuantiga sebagai tari pengucian dalam rangkaian Ida Bhatara akantedun, dari Pengaruman Ageng. Di samping itu tarian ini juga merupakan ungkapan rasa syukur kehadapan Ida Bhatara yang berstana di Pura Samuantiga atas karunia yang telah dilimpahkan kepada masyarakat, sehinmgga masyarakat didak berani tidak melaksanakan tarian ini. Berdasarkan tulisan-tulisan yang pernah dibaca serta dari beberapa keterangan informan, tulisan mengenai eksistensi tari Sutri di Pura Samuantiga Bedulu Gianyar, belum ada yang menulisnya. Maka penelitian ini merupakan hasil tulisan yang belum ada sebelumnya. Hal ini menunjukan originalitas dari subyek penelitian. Beberapa hal diatas menjadi ketertarikan untuk menulis materi tersebut, maka ada beberapa masalah yang diangkat : bagaimana bentuk pertnjukna tari Sutri dalam upacara piodalan dan mengapa tari ini tetap eksis dipertunjukan di Pura Samuantiga, Dari penelitian ini diharapka ada manfaat yang dapat diambil yaitu dapat memberikan sumbangan bagi ilmu pengetahuan dan dapat menambah khasanah pengetahuan,serta dapat dipakai sebagai sumbangan pemikiran terhadap penentu kebijakan dalam berkesenian di daerah Gianyar dan Bali umumnya. Sumber data penelitian diperoleh dari informan dan dari kajian literatur. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan analisis deskriptif kualitatif. Bentuk pelaksanaan Tari Sutri didukung oleh beberapa elemen dan sajian pertunjukan. Elemen-elemen yang mendukung terbentuknya Tari Sutri antara lain penari, gerak tari, rias dan busana, musik iringan, tempat pementasan, dan sesaji. Tari Sutri ini tetap eksis dipertunjukan di Pura Samuantiga karena memilik beberapa fungsi yaitu fungsi ritual, fungsi sosial, funsi pelestarian, dan fungsi pengobatan serta mengandung makna religius (kesembuhan, kedamaian, kerukunan kesejahteraan bagi masyarakat pendukungnya), soloidaritas. Dari berbagai fungsi yang terdapat dalampelaksanaan Tari Siat Sampian dalam upcara piodalan (ngusaba) di P

    Item Type: Monograph (Documentation)
    Subjects: N Fine Arts > NX Arts in general
    Divisions: Document
    Depositing User: Users 2 not found.
    Date Deposited: 17 Feb 2011 14:11
    Last Modified: 17 Feb 2011 14:11
    URI: http://repo.isi-dps.ac.id/id/eprint/598

    Actions (login required)

    View Item