I Wayan, Mudana (2026) Deskripsi Karya Seni “Spirit of Galungan”. [Show/Exhibition]
|
PDF
Download (812kB) |
Abstract
Latar belakang penciptaan “Spirit of Galungan” dilatari oleh pemahaman terhadap prosesi perayaan menuju Galungan dirayakan setiap 210 hari atau 6 bulan kalender Bali yang jatuh pada hari Buda (Rabo) Keliwon, Dunggulan. 25 hari sebelum Galungan disebut Tumpek Wariga/ uduh/ pengatag/ pengarah, untuk mengingatkan Galungan segera akan datang dengan mantra “kaki-kaki dadong dija, tiyang mepengarah buin selai lemeng kel galungan, nged-nged,nged ”, dengan sarana upacara berupa bubur beras. Karena jatuh pada wuku wariga disebut juga tumpek wariga. Rangkaian upacarai disertai dengan ngatag yang artinya menggoyang-goyang tumbuhan dengan harapan berbuah lebat atau kesuburan. 6 hari sebelum galungan disebut “sugian”, dilanjutkan dengan “penyajan”. 3 hari sebelum galungan dipercayai turunnya “kala tiga” yaitu; buta galungan, buta dunggulan, dan buta amangkurat. Para bakta diingatkan dengan berbagai godaan untuk memperoleh keseimbangan alam ditandai dengan “nanjep penjor”. Sehari sebelum galungan disebut “penampahan” untuk persiapan sarana upakara dan perayaan galungan. Pada hari galungan dipercayai oleh umat Hindu Bali, roh dan leluhur turun ke dunia pagi- pagi sekali untuk memberi perlindungan dan berkah pada umatnya. Aktifitas yang dilakukan umat pada hari galungan berupa persembahan di tempat suci pekarangan, di pura-pura, di kuburan, dan tempat-tempat yang dianggap mendatangkan berkah. Leluhur dipercayai berada di dunia selama 10 hari hingga hari “Kuningan”. Pada hari kuningan, pagi-pagi sekali sebelum matahari tegak lurus, leluhur sudah kembali ke kahayangan. Aktifitas yang dilakukan melakukan persembahan dipagi hari di tempat-tempat suci, untuk memohonkan keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan umat di alam nyata. Beranjak dari rangkaian proses galaungan terdorong niat pencipta melakukan visualisasi “Spirit of Galungan” dalam seni instalasi. Mark Rosenthal (2003) dalam bukunya Understanding Installation Art: From Duchamp to Holzer, mendefinisikan instalasi sebagai perakitan komponen benda di dalam ruang. Ia membaginya menjadi dua jenis utama, yaitu: 1) Filled Space Installation, dan 2)Site Specific Installation. Sedangkan Claire Bishop (2005) dalam bukunya Installation Art: A Critical History, ia menjelaskan bahwa seni instalasi mengacu pada jenis seni di mana penontonnya dapat masuk secara fisik dan mengalami karya tersebut secara langsung. Seni ini sering kali bersifat teatrikal dan menjadikan keterlibatan serta partisipasi penonton sebagai elemen utama dari karya itu sendiri. Filled Space Installation: Karya yang berfungsi sebagai pengisi ruang; bentuknya tetap sama meskipun dipindahkan ke tempat lain. Sedangkan Site Specific Installation: Karya yang dirancang khusus untuk lokasi/ruang tertentu dan membangun dialog langsung dengan arsitektur atau lingkungan di sekitarnya. Dalam kontek seni rupa Indonesia, Sumartono (2000) mendefinisikan seni instalasi sebagai karya seni rupa yang diciptakan dengan menggabungkan berbagai media untuk membentuk suatu kesatuan baru yang utuh. Bishop membagi estetika seni instalasi menjadi 4 paradigma utama, yaitu: 1) Dream Scene (Pengalaman psikologis/perspektif psikoanalisis), 2) Perceptual Experience (Fokus pada persepsi ruang dan indra), 3) Mimetic Engulfment (Keterlibatan kritis/kesadaran diri), dan 4) Activated Spectatorship (Estetika partisipatif dan keterlibatan sosial-politik). Terkait dengan Seni Instalasi yang mengangkat tema “Spirit of Galungan” maka dapat dikatakan Seni Instalasi adalah karya seni rupa tiga dimensi yang diciptakan dengan cara merakit, menyusun, atau memanfaatkan berbagai media (mix media) di dalam suatu ruang. Seni Instalasi memanfaatkan seluruh lingkungan atau ruang pameran sebagai bagian dari karya. Hal ini memungkinkan pengunjung/penonton untuk masuk secara fisik, berinteraksi, dan merasakan pengalaman sensorik secara menyeluruh di dalam ruang. Metafora spirit galungan sebagai karya instalasi berangkat dari pemahaman terhadap makna dan perayaan galungan yang dilakukan masyarakat pendukungnya. Galungan juga dimaknai sebagai peringatan, untuk mengingatkan, bahwa manusia tidak boleh terlena ketika merayakan suatu kemenangan dengan aktivitas berlebihan, atau melampaui batas-batas kewajaran, seperti; mabuk kesenangan dan bermain judi. Sang kala tiga, dengan berbagai manivestasinya setiap saat akan menggoda dan memberi hukuman sesuai dengan perbuatan. Agar terhindar dari marabahaya dalam merayakan hari raya galungan dibutuhkan kesadaran dan membersihkan diri ketika ingin mengadakan perayakan secara lahir dan batin. Wujud tampilan seni instalasi “Spirit of Galungan” bersifat simbolik, sarat dengan tanda dan makna. Warna “tri datu” yang terdiri dari warna putih, hitam, dan merah melambangkan simbolik dari tiga kekuatan dunia bhur, bhuah, swah yang menghubungkan dunia atas dan dunia bawah. Sedangkan “panca datu” yang terdiri dari warna putih, hitam,merah, kuning dan hijau, simbolik dari kekuatan dan kehidupan alam. Sedangkan lukisan dengan empat tahapan untuk menggambarkan proses menuju Galungan; dari permisi terlebih dulu pada kaki atau dadong (tumbuhan), dilanjutkan dengan pembersihan diri disimbolikkan dengan air. Tahapan berikutnya menumbuhkan kesadaran sang kala tiga akan mengganggu setiap saat yang disimbolikkan dengan tiga topeng menyeramkan. Bagian puncak perayaan galungan divisualkan dengan dominan warna kuning simbolik dengan kesucian atau dinia suci di alam nyata maupun diakhirat. Untuk mendapatkan harmoni dalam seni instalasi, secara estetik medium-medium berupa lukisan, benang warna setukel, dan topeng dikomposisi ulang disesuaikan dengan kondisi arsitektur bangunan dengan mempermainkan unsur-unsur serta elemen-elemen dalam estetika. Untuk menggambarkan proses secara hierrarhis susunan media di komposisikan melajur memanjang ke bawah dari tingkatan tumbuhan atau binatang, manusia menyucikan diri, dan turunnya sang kala tiga dan bersemayamnya para roh dan leluhur. Sedangkan media warna “tri datu” dan “panca datu” dipermainkan untuk menghasilkan ruang dan bidang.
| Item Type: | Show/Exhibition |
|---|---|
| Subjects: | N Fine Arts > NX Arts in general |
| Divisions: | Document |
| Depositing User: | KOMANG AYU SEPTIARI |
| Date Deposited: | 11 Sep 2026 03:03 |
| Last Modified: | 11 Sep 2026 03:03 |
| URI: | http://repo.isi-dps.ac.id/id/eprint/6022 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |


