I Wayan, Mudana (2026) Deskripsi Karya Seni Telur Segara (Bibit Kehidupan). [Show/Exhibition]
|
PDF
Download (748kB) |
Abstract
Latar belakang konsep penciptaan seni lukis dengan judul “Telur Segara (Bibit Kehidupan)” terinspirasi dari pengamatan terhadap laut (segara) sebagai sumber kehidupan yang kondisinya semakin mengkawatirkan. Pencemaran laut, abrasi pantai, dan hancurnya terumbu karang terjadi dimana-mana. Laut sebagai sumber kehidupan terancam ekosistemnya sehingga dikawatirkan akan terjadi bencana. Ketika laut sudah tercemar, sebagai sumber kehidupan akan berpengaruh pada keseimbangan alam dan dapat merusak sendi-sendi kehidupan yang lain. Manusia tidak bisa hidup menyendiri, sangat bergantung pada alam, dan manusia harus cepat sadar dan mawas diri, bahwa merusak ekosistem laut berakibat patal. Secara konsep, Surya Segara Rupa merupakan visualisasi pemuliaan alam yang terjadi secara rutin secara terus menerus. Surya (Matahari), terbit dari Timur tidak pernah berhenti menerangi Bumi dari pagi hingga sore dan terbenam di Barat. Demikian juga Segara (Laut) selalu setia untuk menampung setiap limpahan air hujan atau air yang datang dari hulu. Meskipun mengalami pasang dan surut segara merupakan tempat untuk menetralisir dari segala bentuk kotoran. Konsep Surya Segara Rupa, selain untuk memuliakan alam juga merupakan konsep untuk menyadarkan manusia tentang arti penting fungsi Surya dan Segara bagi manusia. Sebagai sumber kehidupan kini Segara (laut) semakin hari dirasakan semakin tercemar oleh ulah tangan-tangan manusia yang serakah tanpa peduli terhadap rusaknya ekosistem laut. Melalui karya visual ini, pencipta ingin menumbuhkan kesadaran, mengetuk hati masyarakat paling dalam terhadap betapa pentingnya arti dan fungsi laut bagi bagi semua mahluk hidup. Laut merupakan muara tempat untuk menampung aliran air dari dataran tinggi ke dataran rendah yang bermuara ke laut. Segara juga merupakan tempat untuk menyaring berbagai kotoran, limbah, menjadi netral sehingga bermanfaat bagi kehidupan. Dalam karya ini, bibit kehidupan divisualkan dengan simbol-simbol, seperti: (1) lingkaran yang dimaknai sebagai “telur segara”, yang diartikan sebagai bibit kehidupan untuk semua makluk hidup, (2) warna kuning dimaknai kesucian, artinya laut diyakini sebagai tempat yang disucikan, (3) warna biru, dimaknai sebagai lautan itu sendiri yang tenang dan terkadang bergolak, (4) Bidang-bidang yang menggumpal dimaknai sebagai makluk hidup yang saling bergantungan satu dengan yang lain. Sebagai sumber kehidupan telur segara menampilkan harmonisasi yang disusun dengan unsur-unsur dan elemen-elemen seni, seperti: garis, warna, bentuk, ruang dan bidang. Dalam konteks kepedulian terhadap alam dan lingkungan, dirasakan publik semakin tergerus oleh ketamakan manusia yang hanya memikirkan tentang pemenuhan hasrat sesaat tanpa peduli terhadap pencemaran dan rusaknya ekosistem alam. Melalui karya visual ini, pencipta ingin menggugah pikiran masyarakat dari berbagai kalangan untuk tidak merusak laut beserta ekosistemnya. Juga ingin menumbuhkan kesadaran tentang arti pentingnya laut bagi kita, dan generasi penerus kita. Segara beserta ekosistemnya harus dilestarikan sehingga berkelanjutan dari waktu-ke waktu dari generasi ke generasi secara terus menerus. Menurut Undang Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009, tentang “Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup” menggambarkan adanya kekawatiran terhadap kondisi kerusakan alam sehingga perlu dikelola, dipayungi dengan hukum yang berlaku. Untuk kepentingan kesejahtraan dan kemakmuran rakyat banyak, pemanfaatan alam dan lingkungan hidup harus diatur, jangan sampai merusak. Beranjak dari kekhawatiran tersebut terdorong niat pencipta melakukan visualisasi pemuliaan alam laut dengan tema “Telur Segara (Bibit Kehidupan)“. Metode dan teori yang digunakan sebagai bentuk pendekatan dalam penciptaan lukisan “Telur Segara (Bibit Kehidupan) menggunakan teori penciptaan seni Peirce, C. S. (1931–1958), dan Alma M. Hawkins.(1964/1988). Dalam buku “Creating Through Dance” Howkin menyatakan, tahapan penciptaan dibagi menjadi 4 (empat) tahapan, yaitu: 1) tahap ekplorasi, 2) impropisasi, 3) forming, dan 4) evaluasi. Metafora “Telur Segara” (Bibit Kehidupan) merupakan wujud kesadaran terhadap arti pentingnya sumber kehidupan. Secara simbolik metafora telur segara dalam surya segara rupa tidak lekang oleh waktu dan zaman, telur segara divisualkan dengan bulatan seperti telur. Bulatnya telur tidak persis sama layaknya telur yang sering dijumpai di darat maupun di laut. Sebagai bibit kehidupan telur bisa berkembang menjadi kehidupan sesungguhnya, penuh dengan dinamika, liku-liku dan gelombang. Sedangkan segara merupakan simbolik dari tempat yang subur, luas, dan suci. Estetika yang digunakan mewujudkan “Telur Segara (Bibit Kehidupan) adalah estetika simbolik. Sachari, (2002): dalam “Estetika: Makna, Simbol, dan Daya menjelaskan, estetika simbolik bukan sekadar teori keindahan fisik, melainkan sebagai wacana kebudayaan yang dinamis dan memiliki pengaruh sosial. Sedangkan makna (metafisika & persepsi), menjelaskan evolusi pandangan tentang keindahan, membandingkan pendekatan estetika Barat (rasional-objektif/subjektif) dan Barat/Timur dengan nilai spiritualitas serta filsafat kebudayaan. Simbol (Komunikasi Visual), membedah bagaimana karya seni berfungsi sebagai sistem tanda (semotika) yang menyampaikan pesan, identitas, dan nilai-nilai sosial masyarakatnya.Sedangkan daya (pemberdayaan & transformasi), menyoroti fungsi estetika sebagai kekuatan (power) yang mampu menggerakkan kesadaran kritis, mendorong perubahan sosial, hingga memengaruhi industri kreatif dan budaya populer.
| Item Type: | Show/Exhibition |
|---|---|
| Subjects: | N Fine Arts > NX Arts in general |
| Divisions: | Document |
| Depositing User: | KOMANG AYU SEPTIARI |
| Date Deposited: | 11 Sep 2026 06:10 |
| Last Modified: | 11 Sep 2026 06:10 |
| URI: | http://repo.isi-dps.ac.id/id/eprint/6030 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |


