ISI Denpasar | Institutional Repository

KIDUNG MANUSA YADNYA: DAN KONTEKSNYA DALAM MASYARAKAT HINDU DI BALI

Desak Made , Suarti Laksmi (2007) KIDUNG MANUSA YADNYA: DAN KONTEKSNYA DALAM MASYARAKAT HINDU DI BALI. Other. ISI Denpasar.

[img] Microsoft Word (KIDUNG MANUSA YADNYA: DAN KONTEKSNYA DALAM MASYARAKAT HINDU DI BALI) - Published Version
Download (25Kb)

    Abstract

    Kidung Manusa Yadnya merupakan nyanyian suci keagmaan yang keberadaannya diakui oleh penganut agama Hindu terlebih pada masyarakat Hindu di bali. Kehidupan beragama serta pelaksanaan upacara menuntut kehadiran kidung hampir disetiap upacara keagamaan. Pelaksanaan upacara Manusa Yadnya satu diantaranya memiliki rentang upoacara yang sangat panjang dan beragam. Dimualai sejak seorang ibu mengandung seorang bayinya, sudah diupacarai dengan upacara yang dinamai upacara pagedong-gedongan. Upacara pendahuluan ini diikuti dengan beberapa jenis upacara berikut nya seperti: bulanpitung dina (upacara satu bulan tujuh hari), nelu bulanin (upacara tig bulanan), ngotonin (upacara saat anak berusia enam bulan), metatah/ mepandes (upacara potong gigi) dan upacara yang terkhir adalah pawiwahan (upacara pernikahan). Pasangan yang baru menikah ini akan memulai kehidupan baru yang merupakan sebuah pertanda dimulainya sebuah proses ritual yang harus ditaati dan menjadi beban tanggung jawab setiap pasangan baru. Sklus ini berjalan secara alami dan turun temurun secara terus menerus sepanjang kehidupan keagamaan ini bisadipertahankan oleh keturunan atau ahli waris dari sebuah keluarga Hindu.Keseluruhan upacara tersebut merupakan tanggung jawab orang tua sebagai implementasi dari pelaksanaan Tri Rna dimana perhitungan bulan dalam setiap pelaksanaan upacara berlaku menurut perhitungan sisitim kalender Bali. Berbagai jenis kidung bisa dinyanyikan untuk menunjang kelengkapan maupun menambah kehidmatan sebuah hajatan yang bersifat ritual ini. Kidung-kidung tersebut disesuaikan peruntukan dengan jenis dan alur melodinya dengan mempertimbangkan isi syair dan kaitannya dengan jenis upacara yang sedang dilaksanakan. Dari beberapa kidung yang biaa dinyanyikan dalam upacara tertentu kiranya masih banyak yang layak difungsikan namun tidak mendapat perhatian yang sama dengan kidung-kidung yang sudah terbiasa dinyanyikan. Nilai budaya kidung ini perlu dikembangkan sejalan dengan kwantitas upacara yang demikian variatifnya dengan memperhatikan teks dan konteksnya, sehingga upacara yang digelar menjadi semakin bermakna.

    Item Type: Monograph (Other)
    Subjects: N Fine Arts > NX Arts in general
    Divisions: Document
    Depositing User: Users 2 not found.
    Date Deposited: 22 Feb 2011 13:03
    Last Modified: 22 Feb 2011 13:03
    URI: http://repo.isi-dps.ac.id/id/eprint/623

    Actions (login required)

    View Item