Ikhwanuddin , Nasution
(2000)
CITRA RONGGENG DALAM TRILOGI RONGGENG DUKUH PARUK KARYA AHMAD TOHARI.
Mudra (JURNAL SENI BUDAYA), 8.
p. 1.
ISSN 0854-3461
Preview |
|
PDF (CITRA RONGGENG DALAM TRILOGI RONGGENG DUKUH PARUK KARYA AHMAD TOHARI)
- Published Version
Download (6kB)
| Preview
|
Abstract
Ronggeng adalah penarian wanita di dalam tayuban . istilah lain adalah taledhek (tledhek, ledhek), tandhak. Penari ronggeng menari sambil menyanyi dengan kata-kata yang spontan di sesuaikan dengan iringan gamelan. Pakaiannya sederhana dan kasar, kecuali penari tertentu saja yang mengenakan pakaian yang lebih halus. Sedikitnya mereka menggunakan kalung sederhana, rambut diikal secara aneh, diolesi minyak dengan ornament beberapa bunga (suharto, 1999:66)
Pada serat centhini ( karya sastra jawa kuna, 1814), menjelaskan bahwa fungsi ronggeng atau teledhek pada waktu itu adalah sebagai wanita penghibur laki-laki (Hutomo, 1996:99). Tarian teledhek merupakan tarian di pinggir jalan, yang di tarikan oleh wanita-wanita penghibur. Mereka menyayikan lagu-lagu dengan lirik yang bersifat erotik, dan menari-nari dengan gerakan-gerakan yang terutama mengundang perhatian para pria yang liwat, yang kemudian memberikan uang (koentjaraningrat, 1994:218). Walaupun sebenarnya tidaklah semuanya demikian. Di daerah banyumas banyak ronggeng yang baik, artinya tidak merangkap semua wanita tuna susila. Hal ini juga terlihat di daerah banyuwangi, andai saja kita bertolak pad seni gandrung (sejenis ronggeng). Seni gandrung justru kebanggaan daerah tersebut (hutomo, 1996:102). Geertz (1989:401)mengatakan bahwa sebuah kledek (ronggeng) hampir selalu seorang tuna susila.
Actions (login required)
|
View Item |